Selasa, 27 November 2012

LAPORAN LAPANG ( Beras Ketan Putih )



BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Waktu dan tempat penelitian
Praktikum ini dilaksanakan 2 kali yaitu pada hari sabtu 12 oktober 2012 dan hari kamis 15 November 2012, tepatnya di desa Bocek kecamatan Karang Plosa kabupaten Malang.
3.2. Prosedur pelaksanan praktikum
Kegiatan pertama dilakukan dengan mengumpulkan informasi dari petani yang ditunjukkan melalui pendekatan indept interview dengan petani, artinya mahasiswa melakukan wawancara dengan petani tentang beberapa hal yang berkaitan dengan praktek pertanian yang telah dilakukan oleh petani dan mengisi lembar data dibawah ini:













BAB IV
HASIL OBSERVASI
A.    Identitas petani
1.         Nama                     : Sumiati
2.         Umur                     :  63 tahun
3.         Pendidikan                        : Tamatan SR
4.         Profesi lain            : Peternak Ayam ( bukan milik sendiri )
5.         Lokasi desa, kec    : BOCEK Kec. Karang Ploso Kab. Malang

B.     Identitas Lahan Pertanian
1.         Luas garapan (Ha) Sawah   : 1 Ha
2.         Status Lahan : Milik sendiri
3.         Jenis tanaman yang ditanam: Beras ketan putih

C.  Teknik Budidaya
1.       Sumber tenaga kerja
-          Mengunakan tenaga sendiri dan bantuan orang lain.

2.         Urutan pengarapan lahan
-          Pengolahan sawah menunggu datangnya air hujan
-          Tanah di olah dengan pembajakan
-          Kemudian mengunakan pengaruan untuk memperhalus tekstur tanah
-          Sawah siap untuk di gunakan kembali

3.         Pengunaan sarana produksi
-                         Pupuk  organik :
·         Jenis    : Pupuk kandang
·         Jumlah : 2 ton / Ha
·         Asam   :  kotoran sapi + kotoran ayam
Pupuk anorganik
·         Urea
·         SP-26
·         TSP
D.  Interview 1
-          15 tahun menjadi petani beras ketan
-          Produksi mengalami penurunan dari tahum ke tahun
-          Biaya produksi semakin meningkat
-          Input yang dirasakan meningkat adalah biaya tenaga kerja
-          Petani merasakan penurunan kesuburan
-          Usaha mempertahankan kesuburan tanah dengan memperpendek masa berro
-          Petani memahami dampak bahan organik terhadap kesuburan tanah
-          Perlakuan terhadap sisa penen adalah pembakaran
-          Petani slalu menambahkan bahan organik ke lahan pertanian
-          Petani merasakan dampak dari bahan organik yaitu tekstur tanah menjadi gembur dan mudah di olah














BAB V
PEMBAHASAN
Dari hasil interview kami dengan ibu Sumiati ( 63 Tahun ) didapatkan informasi bahwasannya usaha tani tanaman pangan khususnya beras ketan putih masih menjadi salah satu komoditas penyokong ekonomi masyarakat desa Bocek kecamatan Karang ploso. Harganya yang stabil dianggap masih menjajikan bagi keberlangsungan sumber pendapatan masyarakat. Hanya saja keberadaan air pada lahan pertanian masih menjadi kendala teknis dalam suatu proses pertanian.
Pengukuran sistem pertanian berkelanjutan pada lahan milik Ibu sumiati dengan luasan 1 Ha ini mengunakan landasan kajian yang di usulkan oleh Bill (1990) dengan kriteria: mantap secara ekologis, bisa berlanjut secara ekonomis, adil, manusiawi, dan luwes.
Untuk mengukur beberapa kriteria yang di usulkan olek Bill (1990) kami mengunakan metode interview dengan petani secara langsung. Dari kegiatan tersebut kami mendapatkan informasi dari segi ekologis lahan pertanian milik ibu Sumiati Desa. Bocek kec. Karangploso mulai mengalami penurunan hasil produksi. Hal ini di sebabkan oleh pengunaan pupuk kimia secara terus menerus oleh para petani yang menyebabkan residu diareal bentang lahan tertentu menjadi terganggu. Pengambilan dan pengurasan hara secara terus menerus melalui hasil panen tanpa diimbangi dengan pengembalian hara melalui pemupukan organik dan anorganik akan menjadikan tanah semakin kurus, miskin hara dan tidak produktif. Pencemaran terjadi pada tanah, air tanah, badan air atau sungai, udara bahkan terputusnya rantai dari suatu tatanan lingkungan hidup atau penghancuran suatu jenis organisme yang pada akhirnya akan menghancurkan ekosistem (Soemarwoto, 1991). Dalam luasan 1 Ha ini ibu Sumiati menggunakan pupuk organik berupa kombinasi dari kotoran sapi dan kotoran ayam sebesar 2 ton/ Ha dan menggunakan pupuk kimia buatan pabrik yaitu pupuk UREA berpungsi sebagai menyuburkan tanah, mempercepat tumbuhnya tanaman dan anakan, Phonska berfungsi sebagai ketahanan tanaman terhadap penyakit dan mempercepat pembuatan zat pati dan TSP berpungsi mempercepat tumbuhnya tanaman, merangsang pembungaan dan pembentukan buah dan mempercepat pemanenan, pemupukan dilakukan dua kali dalam satu kali musim tanam diantaranya 13 persen ketika padi di semai berumur 15 hari atau dua minggu setelah tanam dan 97 persen ketika benih telah di tanam umur 35 hari.
Adapun penggunaan benih padi, ibu sumiati mengunakan  padi ketan putih benih ulangan dari hasil panen yang terdahulu, bisa dari hasil padi sendiri ataupun membeli dari petani lain dan tidak menggunakan benih berlabel atau jenis padi hibrida karena relatif lebih mahal sehingga tidak banyak petani yang menggunakannya, selain itu produksi yang di hasilkan hampir sama dengan benih ulangan dan praktek dilapangan setiap penggunaan bibit unggul baru sering menimbulkan atau mengundang hama atau penyakit tanaman baru. Harga benih berbeda dengan benih ulangan  padi ketan putih Rp 7000/kg dan harga benih padi bersertifikat Rp 15.000/kg.
Sisa hasil panen berupa jemari ini dibakar membakar  karena dianggap mengganggu dalam pengolahan lahan. Petani tidak menyadari bahwa dengan pembakaran jerami, maka terjadi kehilangan bahan organik yang cukup tinggi pada lahannya pada setiap musim tanam. Disamping itu,  pembakaran jerami juga menghasilkan asap dan CO2 yang kurang baik bagi kesehatan.jerami yang dibakar tersebut sebenarnya dapat membantu menggantikan pupuk KCl sebanyak 1 sak (50 kg). Dengan mengembalikan jerami padi ke lahan sawah, petani dapat menghemat biaya pupuk karena tidak perlu lagi memberikan pupuk KCl.
Dari segi ekonomis dapat di kalkulasi pendapatan ibu Sumiati sebesar 20.000.000,00/ panen maka dalam satu tahunnya beliau mendapatkan pendapatan kotor sebesar 60.000.000,00 dalam 3X panen dengan selang waktu 1 tahun. Pendapatan kotor tersebut di kurangi dengan biaya tenaga kerja olah tanah , tenaga kerja panen , tenaga kerja pasca penen , pupuk , biaya  pemeliharaan dll. Dari hasil panen tersebut maka ibu Sumiati hanya memperoleh pendapatan bersih sebesar 15.000.000/panen dengan akumulasi perbulan sebesar 1.250.000,00 hal ini hanya berselisih sedikit dengan Upah minimum kabupaten dan kota (UMK) di Jawa Timur tahun 2012. Sesuai dengan surat yang diteken Gubernur Nomor 81 Tahun 2011, besarannya Rp 1.257.000. Dengan jumlah anggota keluarga sebesar 7 orang maka perdapatan tersebut masih dirasa kurang mencukupi.
Dalam petanian berkelanjutan pengukuran adil di sini di tekankan pada sumber daya masyarakat yang terpenuhi dari hak-hak mereka dalam pengunaan lahan. Dalam bentang lahan 1 ha yang dimiliki oleh ibu Sumiati ini status lahan merupakan kepemilikan sendiri. Berdasarkan hall tersebut petani dengan kepemilikan lahan sendiri lebih mudah dalam memutuskan untuk melakukan usahataninya karena tidak terbebani dengan biaya sewa lahan dibandingkan petani padi penyewa, ini di pengaruhi karena besarnya biaya yang harus di keluarkan oleh petani penyewa yang harus membatasi biaya produksi untuk menggarap dan kemudian mengembalikan biaya sewanya. Sedangkan kegiatan diluar kegiatan usahatani/ usaha sampingan adalah sebagi peternak ayam (bukan milik sendiri) dengan gaji perhari sebesar 15.000,00.
Pengukuran pertanian berkelanjutan selanjutnya adalah manusiawi . dilihat dari aspek tenaga kerja, keberadaan perempuan masih mendominasi dalam suatu sistem pertanian. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena kebutuhan ekonomis yang meningkat serta pendapatan yang kurang mencukupi menyebabkan peranan perempuan dalam sistem pertanian masih sangat diharapkan. Umur petani juga diperhitungkan dalam hal ini karena akan berpengaruh pada usahatani untuk pengambilan keputusan.
Masyarakat desa.Bocek sebagian besar belum mampu menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi usaha tani yang berlangsung terus. Hal ini juga dikarenakan tidak adanya petugas lapang/penyuluh pertanian yang mengadakan sosialisasi akan perkembangan pertanian.













         BAB VI
                   PENUTUP
6.1 Kesimpulan
            Dari hasil interview dengan ibu. Sumiati  dan  dianalisi mengunakan pendapat metode Bill (1991) yang meliputi 5 aspek besar dalam keberlanjutan sistem pertanian yaitu mantap secara ekologis, mantap secara ekonomis, adil, manusiawi dan luwes maka diperoleh kesimpulan dari pertanian dalam bentang lahan 1 Ha yang dimiliki oleh ibu Sumiati hanya mampu memenuhi 2 aspek saja yaiu dari aspek adil dan mantap secara ekologi , dari 2 hal tersebut maka pertanian yang dilakukan oleh ibu Sumiati belum dapat di kategorikan berkelanjutan (sistainable) karana pertanian berkelanjutan adalah pengolahan sumberdaya pertanian untuk usaha pertanian guna membantu memenuhi kebutuhan manusia yang berusbah sekaligus mempertahankan dan menigkatkan kualitas lingkungan beserta melestarikan sumber daya alam.













DAFTAR PUSTAKA
diakses pada tanggal 18 november 2012
diakses pada tanggal 18 november 2012
Beras ketan,pdf. Diakses pada 18 november 2012
Tanah sawah, pdf. Diakses pada tanggal 18 november 2012
http://www.theprofessional.biz/article/433/ diakses pada tanggal 18 November 2012















LAPORAN PRAKTIKUM
MENGUKUR SISTEM PERTANIAN BERKELANJUTAN (sustainable  agriculture) DI DESA BOCEK KEC. KARANGPLOSO KAB. MALANG
PERTANIAN BERKELANJUTAN
Dosen pengampu :
Ir. Nurhidayati, MP.

Logo Unisma.JPG

Oleh :
Firchatin Wafiroh ( 2100310014)
Fasih Rachmaningrum ( 2100310011)
Moh. Robikan ( 2100310013)


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ISLAM MALANG
TAHUN 2012
Lampiran foto kegiatan

1.DSCN0007.JPG   2.DSCN0021.JPG
    3.DSCN0018.JPG  4. 100_7224.JPG
5.DSCN0029.JPG 6.100_7195.JPGKeterangan: :
1.Bentang lahan untuk tanaman beras ketan putih
2.Foto bersama ibu Sumiati
3.Rebah akibat terpaan angin
4.Kompos
5.Distribusi kompos, 6.Irigasi

Kita tidak mewarisi bumi dari nenek moyang kita, melainkan meminjamnya dari anak cucu kita